YAL ALIAS PAPA DONA: THE REAL BOGANI

banner 468x60
“Mopiya kon totabuan, monikit kon leluhur Bogani.” Alihbasa: Cintailah tanah kelahiran, hormatilah leluhur Bogani.” — Dikutip dari sastra lisan: Salamat.
Sejarah politik Sulawesi Utara tidak bisa dilepaskan dari figur Drs. Syachrial Damopolii MBA(76), tokoh asal Bolaang Mongondow yang hari ini merayakan ulang tahunnya.
Bung Karno pernah mengingatkan bangsa ini dengan semboyan jasmerah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Refleksi itu menemukan relevansinya pada sosok Syachrial, yang dikenal dengan sapaan Yal atau Papa Donna, seorang politisi yang menapaki jalan panjang dari dunia perkoperasian hingga menjadi Ketua DPRD Provinsi Sulut selama tiga periode.
Karier politiknya berawal dari koperasi unit desa (KUD), kemudian melejit sebagai pengurus PUSKUD Sulut di era Drs. Eddy Sepang hingga Drs. Hesky Montong.
Dari ruang koperasi yang penuh dinamika, Yal mulai bersentuhan dengan politik praktis, ditemani para aktivis Angkatan 66 seperti mendiang Drs. Ahmat Saramat, Ali Kasim, dan Harun Wasolo.
Lingkaran ini membawanya ke partai Golkar, tempat ia belajar beradaptasi dengan sistem politik Orde Baru yang kala itu bertumpu pada tiga jalur rekrutmen politik: ABG(ABRI, Birokrasi, Golkar).
Momentum Pemilu 1997 mengukuhkan Yal sebagai politisi fenomenal di Sulut.
Reformasi 1998 yang mengguncang rezim Orde Baru justru membuka ruang baginya untuk menguasai jurus politik baru dalam sistem pemilu langsung.
Eskalasi tuntutan pemekaran daerah dan perubahan lanskap politik membuatnya semakin piawai memainkan strategi.
Pada Pilgub Sulut 2000, ia berhasil membangun aliansi politik yang akomodatif, mengantarkannya menjadi Ketua DPRD Sulut dua periode, di masa transisi dari sistem perwakilan ke demokrasi langsung.
Era kepemimpinannya antara 2000 hingga 2010 menjadikan DPRD Sulut sebagai rumah aspirasi rakyat dan tumbuh bersama dua top eksekutif, Gubernur Sulut: Drs.AJ. Sondakh(2000-2005) dan Dr. SH. Sarundajang(2005-2015).
Ia merekrut akademisi dan aktivis ekstra parlemen untuk memperkuat fungsi legislatif, di antaranya Dr. Max Rembang, Dr. Eli Regar, Karel Najoan, Dr. Michael Mamentu MA, dan mendiang Vanny Kaparang(pernah menjabat Sekwan).
Yal juga dikenal memiliki sekutu politik seperti Joseph Pati, murid dari “dukun politik” mendiang Fritz Sumampouw.
Bersama, sohib kental, mendiang Jost Pati, ia menghidupkan iklim politik di ruang publik, bukan hanya di ruang parlemen.
Politik bagi Yal adalah perayaan biopolitik, sebuah celebration of awareness yang harus dirayakan di hotel, kafe, dan ruang pertemuan rakyat, bukan sekadar di ruang sidang yang penuh diplomasi dan trik.
Syachrial Damopolii, disapa akrab Yal alias Papa Dona, adalah figur yang menjembatani masa Orde Baru, Reformasi, hingga era otonomi daerah.
Ia bukan sekadar politisi, melainkan Bogani sejati—tokoh lokal yang mengakar pada tanah Totabuan, namun mampu menempatkan dirinya dalam panggung politik nasional.
Biografinya adalah cermin bahwa politik bukan hanya soal kekuasaan, melainkan tentang bagaimana aspirasi rakyat dirayakan, dihidupkan, dan dijaga.
Barakallahu fii umuriq. Mopiya naa😍🙏
#coverlagu: Lagu Tano Tano Bon(Cipt. Bernard Ginupit) dilantunkan Tielman Sister pertama kali dirilis pada 2005 di bawah label DL Records, kemudian tersedia dalam format digital pada 15 April 2020.
Makna lagu ini adalah sebuah lagu tradisional Bolaang Mongondow yang mengekspresikan kerinduan dan cinta terhadap tanah kelahiran, menggambarkan ikatan emosional masyarakat setempat dengan tanah dan budaya mereka.
oleh : Reiner Emyoet Ointoe–ReO Fiksiwan
banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *